Ada yang belum tahu jajanan atau cemilan yang namanya cilok? Ya, cilok merupakan gabungan dari dua kata, yaitu aci dan dicolok. Dinamakan cilok karena bahan utama cemilan ini adalah tepung tapioka atau kanji, yang dalam bahasa Sunda disebut aci, dan biasanya dimakan dengan cara dicolok acinya.

Cilok biasanya banyak dijual di lingkungan sekolah, terutama sekolah dasar. Antara lain karena harganya terjangkau uang saku anak SD. Namun, ternyata penggemar cilok tidak hanya anak kecil, orang dewasa pun tetap bisa menikmati jajanan yang kenyal-kenyal ini. 



Sekarang cilok yang dijual memakai gerobak dorong itu satu butir dihargai 500 rupiah. Bumbunya ada yang kacang, saos sambel, lalu dilumuri kecap manis. Melihat potensi pasar yang luas, cilok sekarang bisa dijual dengan kemasan yang lebih baik dan elegan, yaitu dengan dibungkus wadah plastik sekaligus diberi merk, seperti yang diproduksi oleh Pawon Iteung ini.


Pawon Iteung (IG: @Pawon_Iteung) mencampur adonan kanjinya dengan tetelan daging atau daging cincang, sehingga mampu memberikan rasa yang lebih berkelas. Cilok naik kelas. Harganya bisa mencapai Rp20.000,- per wadah isi 20 butir, dan bisa dijadikan sebagai kudapan acara arisan, bahkan resepsi pernikahan.

Jadi, bagi yang kangen jajanan masa kecil, cilok bisa menjadi salah satu obat yang pas, ya. ;)


Bakpao, salah satu kudapan atau cemilan favorit, terutama saat perut keroncongan. Cukup dengan uang 5000 rupiah kita sudah bisa kenyang. Ya, makanan ini memang memiliki ciri khas, antara lain: bentuknya, aromanya, dan juga tekstur ketika kita kunyah.


Ada berbagai macam rasa yang ditawarkan bakpao. Misalnya bakpao isi kacang hijau, cokelat, stroberi, ayam, dan juga kumbu hitam. Nah, yang isi ayam ini biasanya yang beli akan menerima saos sambal dari penjualnya. Karena memang lebih pas jika isi bakpao ayamnya diolesi dengan saos sambal...... nyammmmm..... pas di lidah.

Biasanya, penjual bakpao ini mulai berkeliling pada sore hari. Ada yang dengan gerobak dorong, becak, bahkan dengan dipikul. Hujan dan bakpao, merupakan sebuah pasangan. Dengan masih mengepulkan asap setelah dikeluarkan dari kukusannya, dan dinginnya cuaca saat hujan, merupakan paduan yang bagi kita mengudap bakpao. Apalagi ditemani teh manis kental..... nikmat.
Salah satu kudapan atau jajanan khas di Jogja adalah rujak es krim atau ada yang menyebut rujak gobet. Paduan antara serutan buah mentimun, mangga, kedondong, pepaya, nanas, dan bengkoang, yang disiram dengan ulegan sambal gula jawa, kemudian diberi es krim pada topping-nya.

Bahan sambalnya itu sendiri adalah asam jawa, kencur, gula jawa, cabai, dan sedikit air. Sehingga, rasa yang diciptakan oleh rujak es krim ini perpaduan rasa pedas, asam, dan manis campur di lidah. Menyegarkan, apalagi dinikmati ketika cuaca sedang terik.



Kawasan yang banyak menjual rujak es krim ini berada di sekitar Jl. Harjowinatan, sisi barat Puro Pakualaman. Dari arah Malioboro ke arah timur sekitar 2,5 km, melewati Jalan Sultan Agung dan jembatan Sayidan yang terkenal berkat lagu dari Shaggy Dog itu.

Hanya beralaskan tikar atau kursi plastik, pengunjung bisa membeli rujak es krim sambil menikmati suasana yang tenang dan teduh di seputaran kediaman Paku Alam. Suasana jalannya tidak begitu ramai, jadi tidak terlalu mengganggu apabila kita lesehan di situ. Nah, apabila sedang turun hujan atau ingin dinikmati di rumah, rujak es krim ini juga bisa dibungkus. Sebungkus dihargai 5 ribu rupiah.

Murah, lezat, selamat mencoba! ;)
Pernah dengar atau mungkin makan tiwul? Ya, makanan khas Jogja berbahan singkong yang rasanya manis-manis kenyal pas dikunyah. Cocok sebagai cemilan di pagi hari, ditemani teh manis atau kopi hitam. Pengganti sarapan nasi yang pas;

Di Jogja, salah satu tempat yang menjual tiwul adalah di Pasar Ngasem. Kalau dari pintu masuk, langsung ambil sisi kiri pasar. Biasanya buka pukul 6 pagi, dan sudah lumayan banyak antriannya. Biasanya satu bungkus dihargai 2000 rupiah.


Ada yang pengin mencoba membuat? Mungkin resep di bawah ini bisa dipraktikkan.

Bahan-bahan yang harus disiapkan antara lain:
- 350 gram singkong
- 200 ml air matang
- 150 gram gula merah
- Daun pisang

Bahan untuk ditaburkan pada tiwul:
- 200 gram parutan kelapa
- 2 lembar daun pandan
- ¼ sdt garam

Cara membuat:
- Kupas singkongnya, lalu cuci dengan air hingga bersih.
- Potong singkong dengan ukuran sesuai selera. Untuk mempercepat proses pengeringan, potong singkong lebih tipis.
- Jemur singkong hingga kering, kurang lebih selama 3-4 hari.
- Tumbuk singkong yang sudah dikeringkan sambil dipercik air, sampai terbentuk butiran kecil.
- Siapkan panci untuk mengukus. Beri air secukupnya dan alasi dengan daun pisang.
- Masukkan butiran kecil singkong tadi ke dalam panci. Tambahkan serutan gula merah di atasnya secara merata. Kukus kurang lebih selama satu jam atau hingga matang, lalu angkat.
- Campurkan kelapa parut dan garamnya. Kukus bersama daun pandan di atas api sedang selama 15 menit. Lalu, angkat.
- Tiwul sudah bisa kita nikmati. Siapkan piring saji. Biar aromanya lebih khas bisa alasi tiwul dengan daun pisang. Taruh tiwul di atasnya. Taburi dengan kelapa parut secukupnya. 
- Siap disantap. ;)

Tapi, kalau tidak mau ribet, ya tinggal langsung saja ke pasar tradisional.... hehehe....selamat wisata kuliner!

Cemilan yang mirip dorayaki ini banyak dijual di beberapa tempat. Salah satunya yang enak ada di dalam pasar Ngasem Yogyakarta. Buka sekitar pukul 6.00. Jangan sampai kesiangan, nanti kehabisan bisa bikin manyun.... hehehehe...


Dikenal sebagai warung apem Mbak Wanti. Nah, yang kelihatan di video ini suaminya, Mas Doni. Perhatikan ya, jangan sampai salah.... :D



Kue ini lebih lezat dimakan ketika masih hangat. Harum aromanya tepungnya sangatlah menggoda. Apalagi sambil duduk-duduk santai di Plaza Pasar Ngasem, sambil memandangi eksotika beteng Sumur Gumuling Tamansari. Hmmmm.... mantap.